Kamis, 27 Oktober 2011

Individu, Keluarga, dan Masyarakat

                                                                    BAB 3

Pendahuluan
Dalam kehidupan, manusia seringkali berinteraksi  baik dengan sesamanya (keluarga dan masyarakat). Namun, terkadang manusia hidup sendiri (individu). Oleh karenanya, manusia perlu menjalin hubungan erat dengan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Dalam bab ini, kita akan mempelajari tentang cara manusia berinteraksi.

Pertumbuhan Individu
      Manusia disebut makhluk individu karena tingkah lakunya bersifat spesifik dan tidak meniru orang lain. Dengan demikian, individu merupakan seorang manusia yang tidak hanya memiliki berbagai peranan yang khas dalam lingkungan sosialnya, namun juga memiliki kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya.
      Setiap individu pasti mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Hal ini butuh prose yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya, terutama keluarga karena keluarga merupakan kerabat terdekat dan kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Setiap keluarga pasti memiliki peraturan atau norma yang berpengaruh terhadap pertumbuhan individu. Begitu pula dengan masyarakat yang memiliki norma-norma yang harus dipatuhi, sehingga berdampak pada pertumbuhan individu.
      Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:
1.) Faktor Biologis
Setiap manusia normal dan sehat memiliki anggota tubuh yang utuh, menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada warisan biologis yang bersifat khusus. Artinya, ada sebagian individu yang memiliki karakter fisik berbeda.
2.) Faktor Geografis
Setiap lingkungan yang baik akan membawa kebaikan bagi penghuninya.
3.) Faktor Kebudayaan Khusus
Perbedaan kebudayaan berpengaruh terhadap kepribadian anggotanya. Namun tidak berarti semua individu dalam masyarakat berkebudayaan yang sama juga memiliki perilaku yang sama pula.
      Dari semua faktor di atas dan pengaruh lingkungan sekitar (keluarga dan masyarakat) memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring dengan berjalannya waktu, terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

Pengertian Individu
      Individu berasal dari kata latin "individuum" yang artinya tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tertentu. Kata individu bukan berarti manusia sebagai keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan, demikian pendapat Dr. A. Lysen.
      Individu menurut konsep biologis berarti manusia yang hidup sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di dalam dirinya selalu dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun.
1.) Raga
Raga adalah bentuk jasad manusia yang khas dan dapat membedakan antara individu yang satu dengan lainnya, sekalipun hakikatnya sama.
2.) Rasa
Rasa adalah perasaan manusia yang dapat menangkap objek gerakan dari berbagai benda di alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan keindahan.
3.) Rasio (akal pikiran)
Rasio adalah kelengkapan manusia untuk mengembangkan diri dan untuk mengatasi setiap permasalahan yang ada serta merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera.
4.) Rukun (pergaulan hidup)
Rukun adalah bentuk sosialisasi dengan manusia dan hidup berdampingan dengan yang lain secara harmonis, damai, dan saling melengkapi. Selain itu, dapat membantu manusia untuk membentuk suatu kelompok sosial yang disebut masyarakat.


Keluarga
      Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga" . Kata kula berarti "ras" dan warga berarti "anggota". Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang memiliki hubungan darah berkumpul. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab antara individu tersebut.





Pengertian Keluarga


      Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat dalam keadaan saling ketergantungan.
            
      Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.


Tipe Keluarga
Ada beberapa tipe keluarga, yaitu:
*) Keluarga Inti
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak.
*) Keluarga Konjugal
Keluarga yang terdiri dari pasangan ayah, ibu, dan anak-anak mereka yang terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orangtua.
*) Keluarga Luas
Keluarga yang ditarik dari garis keturunan keluarga aslinya dan terdiri dari paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.


Peranan Keluarga
      Peranan keluarga menggambarkan berbagai perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi pada posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok, dan masyarakat.
      Berbagai peranan dalam keluarga, yaitu:
*) Pria sebagai suami dari istri dan ayah bagi anak-anaknya berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya, dan sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
*) Wanita sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu memiliki peranan sebagai pengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik bagi anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya, serta sebagai  anggota masyarakat dari dari lingkungannya. Selain itu, ibu juga berperan sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarganya.
*) Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. 

Tugas Keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok, yaitu:
1.) Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
2.) Pemeliharaan berbagai sumber daya yang ada dalam keluarga.
3.) Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
4.) Sosialisasi antar anggota keluarga.
5.) Pengaturan jumlah anggota keluarga.
6.) Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
7.) Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
8.) Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.


Fungsi Keluarga

Fungsi yang dijalankan keluarga adalah :
  1. Fungsi Pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.
  2. Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
  3. Fungsi Perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
  4. Fungsi Perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
  5. Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.
  6. Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
  7. Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
  8. Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya.
  9. Memberikan kasih sayang, perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.







Bentuk keluarga

Ada dua macam bentuk keluarga dilihat dari bagaimana keputusan diambil, yaitu berdasarkan lokasi dan berdasarkan pola otoritas .

Berdasarkan Lokasi

  • Adat utrolokal, yaitu adat yang memberi kebebasan kepada sepasang suami istri untuk memilih tempat tinggal, baik itu di sekitar kediaman kaum kerabat suami ataupun di sekitar kediamanan kaum kerabat istri;
  • Adat virilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri diharuskan menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat suami;
  • Adat uxurilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri harus tinggal di sekitar kediaman kaum kerabat istri;
  • Adat bilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri dapat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat suami pada masa tertentu, dan di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istri pada masa tertentu pula (bergantian);
  • Adat neolokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri dapat menempati tempat yang baru, dalam arti kata tidak berkelompok bersama kaum kerabat suami maupun istri;
  • Adat avunkulokal, yaitu adat yang mengharuskan sepasang suami istri untuk menetap di sekitar tempat kediaman saudara laki-laki ibu (avunculus) dari pihak suami;
  • Adat natalokal, yaitu adat yang menentukan bahwa suami dan istri masing-masing hidup terpisah, dan masing-masing dari mereka juga tinggal di sekitar pusat kaum kerabatnya sendiri .

Berdasarkan pola otoritas

  • Patriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh laki-laki (laki-laki tertua, umumnya ayah)
  • Matriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh perempuan (perempuan tertua, umumnya ibu)
  • Equalitarian, yakni suami dan istri berbagi otoritas secara seimbang.


Subsistem Sosial
Terdapat tiga jenis subsistem dalam keluarga, yakni subsistem suami-istri, subsistem orang tua-anak, dan subsitem sibling (kakak-adik).[8] Subsistem suami-istri terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan yang hidup bersama dengan tujuan eksplisit dalam membangun keluarga.[8] Pasangan ini menyediakan dukungan mutual satu dengan yang lain dan membangun sebuah ikatan yang melindungi subsistem tersebut dari gangguan yang ditimbulkan oleh kepentingan maupun kebutuhan darti subsistem-subsistem lain.[8] Subsistem orang tua-anak terbentuk sejak kelahiran seorang anak dalam keluarga ,subsistem ini meliputi transfer nilai dan pengetahuan dan pengenalan akan tanggungjawab terkait dengan relasi orang tua dan anak.[

SUMBER:  http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga


Individu, Keluarga, dan Masyarakat


Pengertian


     Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia.
1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
3. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.
       Masyarakat adalah sejumlah manusia yang merupakan satu-kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama, seperti: sekolah, keluarga, perkumpulan.
      Dalam ilmu sosiologi kita mengenal ada dua macam masyarakat, yaitu:
*) Masyarakat Paguyuban
Masyarakat yang berhubungan pribadi antara anggota-anggota yang memiliki ikatan batin antara mereka.
*) Masyarakat Petambayan
Masyarakat yang berhubungan pamrih antara anggota-anggotanya.


Unsur-unsur Masyarakat


a.) Harus ada perkumpulan manusia yang berjumlah banyak.
b.) Telah bertempat tinggal dalam waktu lama disuatu daerah tertentu.
c.) Ada aturan/undang-undang yang mengatur masyarakat untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama. 


Masyarakat berdasarkan cara terbentuknya


1.) Masyarakat paksaan, misalnya: negara, masyarakat tawanan.
2.) Masyarakat merdeka
   a.) Masyarakat natur, yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendirinya. Contoh: gerombolan (harde), suku (stam), bertalian karena hubungan darah atau keturunan.
   b.) Masyarakat kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan atau kepercayaan.


Masyarakat berdasarkan antropologi terbagi dua, 


yaitu:


a.) Masyarakat kecil yang belum begitu kompleks, belum mengenal pembagian kerja, belum mengenal tulisan, dan teknologinya sederhana. 
b.) Masyarakat yang sudah kompleks, yang sudah menjalankan spesialisasi dalam segala bidang karena pengetahuan modern sudah maju, teknologi pun sudah berkembang dan telah mengenal tulisan.





(1) Masyarakat Non Industri
Kita telah tahu secara garis besar bahwa , kelompok nasional atau organisasi kemasyarakatan non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group).

(a) Kelompok primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Di karenakan para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, sehingga mereka mengenal lebih dekat, lebih akrab.
dalam kelompok-kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa, lebih dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawabpara anggota dan berlangsung atas dasar rasasimpati dan secara sukarela.
Contoh-contoh kelompok primer, antara lain :keluarga, rukun tetangga, kelompok belajar,kelompok agama, dan lain sebagainya.
(b) Kelompok sekunder
Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak Iangsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karen yaitu, sifat interaksi, pembagian kerja, pembagian kerja antaranggota kelompok di atur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional, obyektif.
Para anggota menerima pembagian kerja/pembagian tugas atas dasar kemampuan; keahlian tertentu, di samping dituntut dedikasi. Hal-hal semacam itu diperlukan untuk mencapai target dan tujuan tertentu yang telah di flot dalam program-program yang telah sama-sama disepakati. Contoh-contoh kelompok sekunder, misalnya : partai politik, perhimpunan serikat kerja/serikat buruh, organisasi profesi dan sebagainya. Berlatar belakang dari pengertian resmi dan tak resmi, maka tumbuh dan berkembang kelompok formal (formal group) atau lebih akrab dengan sebutan kelompok resmi, dan kelompok tidak resmi (informal group). Inti perbedaan yang terjadi adalah : Kelompok tidak resmi (informal group) tidak berstatus resmi dan tidak didukung oleh Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah tangga (ART) seperti yang lazim berlaku pada kelompok resmi.
Namun demikian, kelompok tidak resmi juga mempunyai pembagian kerja, peranan-peranan serta hirarki tertentu, norma-norma tertentu sebagai pedoman tingkah laku para anggota beserta konvensi-konvensinya. Tetapi hal ini tidak dirumuskan secara tegas dan tertulis seperti pada kelompok resmi (W.A. Gerungan, 1980 : 91).
Contoh : Semua kelompok sosial, perkumpulan-perkumpulan, atau organisasi-organisasi kemasyarakatan yang memiliki anggota kelompok tidak resmi.
(2) Masyarakat Industri

Durkheim mempergunakan variasi pembangian kerja sebagai dasar untuk mengklasifikasikan masyarakat, sesuai dengan taraf perkembangannya. Akan tetapi is lebih cenderung mempergunakan dua taraf klasifikasi, yaitu yang sederhana dan yang kompleks. Masyarakat-masyarakat yang berada di tengah kedua eksterm tadi diabaikannya (Soerjono Soekanto, 1982 : 190).
Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda bahwa kapasitas masyarakat semakintinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah men2enal pengkhususan.Otonomi sejenis, juga menjadi ciri daribagian/ kelompok-kelompok masyarakat industri. Otonomi sejenis dapat diartikan dengan kepandaian/keahlian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri, sampai pada batas-batas tertentu.
Contoh-contoh : tukang roti, tukang sepatu,tukang bubut, tukang las, ahli mesin, ahli listrik dan ahli dinamo, mereka dapat bekerja secara mandiri. Dengan timbulnya spesialisasi fungsional, makin berkurang pula ide-ide kolektif untuk diekspresikan dan dikerjakan bersama. Dengan demikian semakin kompleks pembagian kerja, semakin banyak timbul kepribadian individu. Sudah barang tentu masyarakat sebagai keseluruhan memerlukan derajat integrasi yang serasi. Akan tetapi hanya akan sampai pada batas tertentu, sesuai dengan bertambahnya individualisme.
HUBUNGAN INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT
  • Hubungan individu dengan dirinya sendiri
Hubungan individu dengan diri sendiri terdapat 3 sistem kepribadian, yaitu ID ( ES ), EGO dan SUPER EGO. Jika EGO gagal menjaga keseimbangan antara dorongan dari ID dan larangan dari SUPER EGO maka individu akan mengalami konflik batin terus – menerus.
  • Hubungan individu dengan keluarga
Hubungan individu dengan keluarga terdiri dari hubungan biologis, psikologis dan social.
  • Hubungan individu dengan lembaga
Hubungan individu dengan lembaga terdiri dari nilai – nilai dan norma – norma.
  • Hubungan individu dengan komunitas
Hubungan individu dengan komunitas atau sosialisasi terdiri dari penyebaran nilai dan budaya.
  • Hubungan individu dengan masyarakat
Hubungan individu dengan masyarakat sebagai lingkungan makro terdiri dari sifat – sifat makro ( mencakup komunitas, keluarga, lembaga dan individu ), lebih bersifat abstraksi.
  • Hubungan individu dengan nasion atau jiwanya
Nasion adalah suatu jiwa, asas spiritual dan solidaritas yang terbentuk oleh perasaan. Hubungan individu dan nasionnya itu sendiri merupakan posisi dan peranan yang ada pada diri sendiri.
Mengutip dari: http://salmonfry.wordpress.com/2010/12/22/pengertian-dan-hubungan-individu-keluarga-dan-masyarakat/ quick basic



Urbanisasi

Downtown Toronto
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.
Berbeda dengan perspektif ilmu kependudukan, definisi Urbanisasi berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Perpindahan manusia dari desa ke kota hanya salah satu penyebab urbanisasi. perpindahan itu sendiri dikategorikan 2 macam, yakni: Migrasi Penduduk dan Mobilitas Penduduk, Bedanya Migrasi penduduk lebih bermakna perpindahan penduduk dari desa ke kota yang bertujuan untuk tinggal menetap di kota. Sedangkan Mobilitas Penduduk berarti perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara atau tidak menetap.
Untuk mendapatkan suatu niat untuk hijrah atau pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya.
Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk sesuatu yang mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk urbanisasi, maupun dalam bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik. Di bawah ini adalah beberapa atau sebagian contoh yang pada dasarnya dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan urbanisasi perpindahan dari pedesaaan ke perkotaan.
A. Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi
  1. Kehidupan kota yang lebih modern
  2. Sarana dan prasarana kota lebih lengkap
  3. Banyak lapangan pekerjaan di kota
  4. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas
B. Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi
  1. Lahan pertanian semakin sempit
  2. Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
  3. Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
  4. Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
  5. Diusir dari desa asal
  6. Memiliki impian kuat menjadi orang kaya
C. Keuntungan Urbanisasi
  1. Memoderenisasikan warga desa
  2. Menambah pengetahuan warga desa
  3. Menjalin kerja sama yang baik antarwarga suatu daerah
  4. Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa



Mengutip dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Urbanisasi



































0 komentar:

Poskan Komentar