Minggu, 13 Oktober 2013

Tugas 2 : WAJAH BAHASAKU KINI

Penggunaan Bahasa Gaul di Kalangan Remaja
Saat ini banyak sekali remaja yang menciptakan bahasa gaul, yaitu bahasa baku yang dipelesetkan, sehingga terkadang orang dewasa tidak memahami bahasa apa yang dikatakan oleh para remaja tersebut.
Contoh bahasa gaul yang sering dipakai adalah beud, yang berasal dari kata banget. Selain itu Uang, yang berasal dari kata yang. Lalu ada pula kata kakak yang dalam bahasa Inggris adalah sister, menjadi sista, dan brother menjadi bro.
Masih banyak sekali bahasa gaul yang digunakan para remaja dalam percakapan sehari-hari. Penyebabnya adalah kurangnya kecintaan terhadap bahasa Indonesia baku. Namun, tidak semua remaja menggunakan bahasa gaul ini. Yang menggunakannya pada umumnya adalah remaja yang ingin dianggap beken atau tenar di kalangan teman-temannya. Mereka menganggap berbahasa gaul adalah keren, padahal di mata remaja lain gaya bahasa mereka adalah alay.

Alay adalah singkatan dari Anak Layangan, yaitu anak-anak yang dalam berbicara atau menuliskan kata-kata cenderung agak kampungan. Ciri-ciri alay antara lain
seperti “lagi apa?” menjadi “gi pha??”atau “bosen banget jadi “bsen bgd nh “atau “bosen beud nh”. Memakai simbol tambahan “p@ k@bar L0e/?”atau “hha.. y nh.. lg bosen-” pada kalimat yang ditulisnya.
Menggunakan huruf z di belakang kata “mk bgtz.” atau “gurunya malezin yh “.

Di atas adalah sebagian kecil dari ciri-ciri alay. Gaya bahasa ini tidak hanya mereka praktikkan dalam penulisan, namun juga dalam cara berbicara. Ketika mereka berbicara dengan bahasa gaul yang agak sedikit norak itu, terkadang bibir mereka monyong mengikuti kata-kata yang mereka ucapkan. Aksen huruf z pada akhir kata terdengar sangat jelas, sehingga membuat lawan bicara yang tidak memahaminya menjadi pusing.

Bahasa gaul yang digunakan anak remaja alay ini sudah menjalar ke mana-mana. Anak kecil pun mengetahui gaya bahasa ini. Sangat disayangkan sekali, anak kecil yang sebenarnya mampu menyerap banyak kata terpaksa menyerap kata-kata yang tidak baku dalam bahasa Indonesia.
Dari sekian banyak bahasa di Indonesia, mengapa bahasa gaul ini yang lebih populer? Apakah karena bahasa Indonesia yang baik dan benar hanya digunakan di kelas saja?

Tugas Orang Tua dan Guru
Sebenarnya ini adalah tugas bagi orang tua dan guru untuk memperhatikan perkembangan bahasa anak-anaknya. Karena berbahaya sekali jika anak-anak kecil menggunakan gaya bahasa gaul nan alay ini. Mereka bisa menuliskan dan mengucapkannya hingga remaja nanti, sehingga mereka tidak mengetahui yang manakah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bisa saja karena mereka terlalu sering menggunakan bahasa yang norak ini hanya karena ingin gaul dan tenar, lalu mereka mengucapkannya di depan guru, menuliskannya pada lembar jawaban ulangan esai, dan menggunakannya ketika berpidato.
Mengapa demikian? Karena mereka sudah terbiasa dengan bahasa gaul alay ini, bisa saja mereka lupa dengan bahasa asli bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Penggunaan bahasa gaul nan norak ini banyak sekali digunakan dalam penulisan status Facebook. Di jejaring sosial ini, kita dapat menuliskan status yang menggambarkan keadaan kita. Nah, di sinilah yang menjadi ajang anak layanga=n menunjukkan keberadaannya. Contoh status Facebook anak layangan
Menulis dengan huruf besar dan kecil dalam satu kalimat, contoh SaYaSedAnG TiDAk AdA di RuMah SaaT iNi.
Menulis dengan diselingi angka di dalam kalimat, contoh 54Y4 S4Y4N9 S4m4 K4M03.
Menggunakan tanda baca yang tidak perlu di dalam kalimatnya, contoh
Aq…engga…tauuuu…mauuu..n ulizzz…appaaaaaa…….!?!?!
Menggunakan singkatan-singkatan yang berlebihan, contoh Aq gga da wqtu skrg wt ktmu qm, qm jja yg dtnk k t4 q.

Nah, itulah ciri-ciri anak layangan dalam statusnya di Facebook. Dari situlah bahasa gaul itu merambat ke penulisan dan pengucapan sehari-hari. Kenapa mereka seperti itu?
Alasannya adalah karena ingin mengambil perhatian orang lain, mereka mencari simpati agar diperhatikan dengan cara yang demikian. Mereka tidak menyadari bahwa membaca tulisan seperti itu sangatlah memusingkan, membuat mata sakit, dan susah memahaminya. Lalu
bagaimana jika mereka menggunakan penulisan seperti itu dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah? Gurunya pasti tidak paham dan itu tidaklah sesuai dengan yang diajarkan di sekolah. 

Lain halnya ada juga yang disebut Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/ pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di Jakarta.

Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran.
Belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian, bahasa pergaulan anak-anak remaja ini merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu (kalangan homo seksual atau waria).

Bahasa prokem merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu ia dikenal sebagai 'bahasanya para anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagaipreman.
Saat ini bahasa prokem telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media-media popular seperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan seringkali pula digunakan dalam bentuk pengumuman-pengumuman yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja populer. Bahasa prokem umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak variasi dan perbedaan dari bahasa prokem bergantung pada kota tempat seseorang tinggal, utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnis-etnis yang menjadi penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai contoh, di Bandung, Jawa Barat, perbendaharaan kata dalam bahasa prokemnya banyak mengandung kosakata-kosakata yang berasal dari bahasa Sunda. Karena jamaknya, kadang-kadang dapat disimpulkan bahasa prokem adalah bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari, kecuali untuk keperluan formal. Karenanya akan menjadi terasa 'aneh' untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia formal. Struktur dan tatabahasa dari bahasa prokem tidak terlalu jauh berbeda dari bahasa formalnya (bahasa Indonesia), dalam banyak kasus kosakata yang dimilikinya hanya merupakan singkatan dari bahasa formalnya.

Perbedaan utama antara bahasa formal dengan bahasa prokem ada dalam perbendaharaan kata. Banyak orang asing yang belajar Bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa daerahnya masing-masing atau juga menggunakan bahasa prokem.

Contoh Bahasa Indonesia Bahasa Prokem (Informal)

Aku,Saya Gue,gua(ditulispulagw)                           
Kamu                                               Loe, Lu
Penatlah!                                         Capek deh !
Benarkah?                                       Emangnya bener ?
Tidak perduli                                    Emang gua pikirin !

Partikel yang sering dipakai
Sih, nih, tuh, dong, merupakan sebagian dari partikel-partikel bahasa prokem yang membuatnya terasa lebih "hidup" dan membumi, menghubungkan satu anak muda dengan anak muda lain dan membuat mereka merasa berbeda dengan orang-orang tua yang berbahasa baku. Partikel-partikel ini walaupun pendek-pendek namun memiliki arti yang jauh melebihi jumlah huruf yang menyusunnya. Kebanyakan partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain yang tidak dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku seperti tingkat keakraban antara pembicara dan pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana pada kalimat tersebut diucapkan.

Pengucapan
Cara pengucapan bahasa gaul dilafalkan secara sama seperti halnya bahasa Indonesia. Kosakata-kosakata yang meminjam dari bahasa lain seperti bahasa Inggris ataupun Belanda diterjemahkan pengucapannya, contohnya, 'Please' ditulis sebagai Plis, dan 'Married' sebagai Merit.

Manusia bisa karena terbiasa. Jika anak-anak remaja itu sudah terbiasa menulis dengan kata-kata yang salah maka selanjutnya akan salah. Hal ini dapat membuat penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak dipakai dan mati. Seharusnya remaja membudidayakan berbahasa yang baik, karena kalau bukan remaja, siapa lagi?
Namun, mungkin karena jam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah kurang, bisa saja mereka menjadi malas berbahasa yang baik. Atau mereka menganggap guru mereka membosankan, jadi mereka merasa pelajaran bahasa Indonesia pun membosankan, dan mereka tidak peduli dengan tata cara bahasa yang baik dan benar.

Banyak cara untuk membuat remaja menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, antara lain
Membiasakan remaja untuk membaca buku-buku penulis Indonesia.
Berbicara dengan bahasa yang baik kepada anak remaja.
Memperkenalkannya dengan karya sastra sastrawan Indonesia.
Mengajaknya sering-sering berlatih menulis dengan bahasa Indonesia yang baik.
“tidak mengucapkan bahasa yang kasar kepada anak remaja ketika usianya masih kecil.
Oleh sebab itu, kita sebagai keluarga dan gurunya, semestinya mengawasi penggunaan bahasa pada anak. Jangan sampai mereka terbawa pengaruh yang buruk, yang membuat mereka menggunakan bahasa Indonesia yang buruk pula. Cintailah bahasa Indonesia, karena inilah salah satu kekayaan bangsa kita.

















Opini saya tentang  bahasa "gaul" di kalangan remaja yang negative:
                Banyak anak remaja sekarang yang menganggap dirinya itu keren , gaul  dan lain sebagainya dengan menggunakan  Bahasa  Indonesia  yang  tidak  baku .  Tetapi sebenarnya mereka yang menggunakan kata-kata tersebut sering disebut "alay" dan norak. Hanya saja mereka tidak pernah menyadari bahwa bahasa yang mereka gunakan ialah bahasa yang sangat tidak baku dan merusak kalimat dalam kamus bahasa Indonesia .Hal ini bisa sangat memperburuk susunan kaidah dalam kamus bahasa Indonesia dan akan merusak sampai generasi yang mendatang .
                Salah satu contoh bahasa gaul yang ada di kalangan remaja yang perlu diperbaiki “ lg pa nich?” yang bisa diperbaiki menjadi “lagi apa nih ?” dan dengan memperbaiki sedikit demi sedikit bahasa Indonesia yang baik di kalangan remaja akan semakin baik untuk generasi berikutnya, sehingga semakin ke depannya generasi kita juga bisa mempelajari bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahasa Indonesia sebenarnya sangat penting untuk dipelajari karena bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan dan bahasa sehari-hari yang kita pakai. Dengan kita mempelajari bahasa Indonesia secara baik kita juga akan mengerti makna dari perjuangan para tokoh nasional kita yang telah berperan penting dalam mempertahan dan memperjuangkan NKRI dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu antar rakyat Indonesia.
                Menurut saya di kalangan remaja saat ini sangat tidak peduli akan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar . Mereka hanya ingin mempersingkat atau membuat kata-kata yang lebih mudah dan praktis, yang terkadang dapat diartikan tidak baik, aneh, ataupun tabuh . Banyak orang dewasa saat ini yang tidak mengerti dengan pengunaan bahasa ”gaul” yang dibuat remaja, sehingga bisa mengakibatkan kesalahpahaman dalam berbahasa dan dapat menimbulkan konflik karena di anggap bahasa gaul yang digunakan kurang sopan ataupun menyinggung perasaan orang lain .
                Bahasa gaul sangat tidak efektif untuk dipergunakan di jaman sekarang, karena bila dipergunakan bahasa tersebut secara terus-menerus dapat merusak makna dari Bahasa Indonesia yang baik dan benar (baku) dan dapat merusak sifat nasionalisme generasi di masa mendatang, seperti contoh anak kecil pada saat ini yang sering meniru ucapan anak remaja yang sering mereka dengar. Menurut saya mereka bertindak demikian atau menggunakan bahasa “gaul” hanya karena ingin diperhatikan oleh teman-temannya atau hanya ingin dibilang lebih “gaul” dari pada teman lainnya.
                Dampak negative yang di hasilkan oleh bahasa gaul yaitu dapat merusak tutur kata dan kaidah berbahasa, serta terjadinya kesalahpahaman dan dapat memicu konflik . Bahasa “gaul” yang sering diucapkan oleh remaja sering kita dengar di dalam pergaulan , siaran dari televisi ataupun radio .
                Salah satu contoh publik figur yang mengucapkan bahasa “gaul” yang kurang baik dan tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yaitu “Vicky”,  sebagai contoh “ galausisasi “ yang seharusnya cukup dengan kata “galau”  dan itu sangat merugikan Bangsa Indonesia, khususnya anak remaja yang saat ini masih ingin mencari jati diri sesungguhnya.



Saran-saran dengan bahasa gaul yang di gunakan :
    1.)    Menurut saya peran orang tua yang sangat penting untuk seorang anak dalam belajar berbahasa    
    2.)    Anak remaja sekarang harus lebih pintar untuk mencari teman dan bergaul
    3.)   Jangan terlalu meniru ucapan para artis yang sering muncul dalam televisi
    4.)    Lebih sering membaca kalimat Bahasa Indonesia yang baik di dalam kamus
    5.)    Sering mempelajari susunan kalimat Bahasa Indonesia secara seksama


Nama   : Sartika Raharjo
Kelas   : 3KA39
NPM   : 16111625


.

0 komentar:

Poskan Komentar